Thursday, March 28, 2013

Payung Teduh : Dunia Batas

Ketika pada akhirnya saya membeli CD ini, kata pertama yang keluar adalah, "akhirnyaaa.." seraya tersenyum lebar. Setelah selama ini hanya mendengar lagunya lewat mp3, saya, yang sangat menyukai lagu-lagu mereka, merasa sangat kurang ajar kalau sampai tidak membeli CD aslinya.

Warnanya hijau lembut dengan gambar pohon yang terlihat teduh (sukaaaa!). Dan begitu dibuka, langsung terlihat sebuah foto kaca yang basah terkena rintik hujan dilengkapi tulisan yang berbunyi: 

Hujan turun..
Ada yang malu..
Berbisik dalam kerinduan yang fana..
Dia berkata, jangan datang terang dan terik..
Biarkan fana ini bertahan sejenak..

Kemudian pada bagian kumpulan liriknya terdapat tulisan pembuka berbunyi:

Malam lalu pagi..
Siang lalu senja menyusul..
Sungguh peralihan yang sangat indah..
Dan manusia merangkum dalam kata..
Dengan hati-hati.

Manusia merangkum kata-kata. Seperti halnya saya yang terkadang merangkum cerita. Karena Payung Teduh adalah sepaket lagu dengan keindahan lirik dan alunan musik yang merdu. Nikmati saja :)
(membeli CD ini memaksa saya mengeluarkan kembali mini compo kesayangan saat kuliah dulu. Hohoho!)


Wednesday, March 20, 2013

Memeluk Malam

Menemukan nyaman saat terbaring di atas lantai yang dingin. Dengan satu-satunya cahaya berasal dari lampu jalanan.
Ramai sekali sepertinya. Teriakan anak kecil yang bermain di bawah sana. Suara adzan dari pengeras suara masjid yang memecah malam.
Lalu hening lagi.
Nyanyian jangkrik dan berbagai macam binatang malam di hamparan ilalang. Merdu di kegelapan. Hingar yang tenang.
Masih di lantai yang keras ini, perlahan aku terpejam. Menikmati bayu yang berhembus lembut. Pikiran berkelana.
Nyaman.

(17.03.13)

Tuesday, March 12, 2013

Yang Tak Kasat Mata

Mata ini menangkap sosoknya lagi.
Punggung yang masih sama.
Siluet yang dulu.
Hanya hati yang sepertinya berbeda.
Entah bagaimana, aku merasakannya.
Firasat kah?
Sayang yang bukan milikku lagi.
Bisa apa aku?
Batinku seraya tertawa.

(12.03.13)

Saturday, February 16, 2013

You never learn, do you?

I do.
But don't forget, people always say "follow your heart", not "follow your brain".
So, don't blame me :')

Tuesday, February 05, 2013

Review: Always, Laila <Andi Eriawan>

Always, Laila oleh Andi Eriawan.

Entah mengapa novel ini sampai sekarang masih menjadi novel romance favorit saya. Saya suka alur ceritanya, saya suka teknik penulisannya, saya suka tokoh-tokohnya, saya suka keseluruhan isi dari novel ini.

Saya membelinya di festival buku di Lampung tanggal 9 Desember 2006 seharga Rp 16.800 (harga aslinya Rp 28.000 dengan tambahan diskon 40%). Murah, makanya saya beli. Dan setelah selesai membacanya, saya sedikit bingung kenapa novel sebagus ini hanya dibandrol dengan harga segitu. Murah sekali.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Laila dan Phrameswara, dan ini adalah cerita sejak mereka pertama bertemu di bangku SMA, kuliah, lulus, sampai akhirnya merencanakan untuk menikah. Dengan alur maju mundur dan terselip puisi-puisi manis dari Pram yang ditujukan untuk Laila, membuat saya tak melepasnya sebelum halaman terakhir saya baca.

Kisah cinta yang manis juga tragis. Sad beginning - Sad ending. Beberapa orang yang saya rekomendasikan buku ini kurang menyukai endingnya. Sebaliknya dengan saya, yang sangat menyukainya. Karena pada akhirnya, kedua tokoh utama dapat berdamai dengan hatinya masing-masing. Ikhlas dan dapat tersenyum lagi. Dan puisi penutup yang ditulis Pram, membuat saya semakin jatuh hati kepada tokoh ini. Bunyinya seperti ini:

Gemuruh di hatiku mereda sendirinya
langit menjadi lebih cerah
dan udara tak lagi menyesakkan dada
Mungkin karena telah kutemukan
definisi lain dari cinta
Makna tak lagi berasal dari pertemuan
dan rasa rindu membuatku bahagia