Saturday, January 12, 2013

Tidak Bisa Berhenti!

Menulis.

Tidak, saya bukan penulis. Saya hanya orang yang (terkadang) menulis untuk membuang apa yang ada di pikiran saya, menuangnya dalam deretan huruf dan angka. Meliuk seperti tulisan cakar ayam saya, atau huruf monoton yang sama persis bentuknya saat menulis dengan komputer pun telepon genggam.

Saya tidak menulis puisi. Saya tidak menulis cerita fiksi. Saya tidak menulis biografi. Saya hanya menuliskan tentang apa yang saya yakini. Dengan hati. Membagi isi kepala ke dalam tumpukan kata-kata yang dipisahkan spasi.

Saya bukan penulis yang baik, tentu saja. Saya tidak punya orang yang mengoreksi tata bahasa dan tekhnik penulisan yang saya gunakan. Toh hanya untuk konsumsi pribadi dan teman-teman dekat.

Jujur, mempunyai blog ini terkadang membuat saya terbebani. Amat sulit buat saya menjaga konsistensi. Terlebih lagi, teman yang dulu mendorong saya membuat blog ini (sepertinya) sudah jarang menulis lagi. Dia (sepertinya lagi) sibuk sekali. Saya seolah kehilangan seorang inspirator yang membuat saya bergelut (ogah-ogahan :p) dalam dunia blog ini.

Tapi di satu sisi, dia terlanjur menjerumuskan saya ke dalam dunia ini, membuat saya tidak bisa berhenti. Walau datang dan pergi, saya ternyata benar-benar tidak bisa berhenti untuk tetap menulis di sini. Ah sudahlah, persetan dengan konsistensi. Hahahaha.

Hei kamu yang jadi inspirator saya, ayo menulis lagi.. :)

---------

Note: Selamat datang 2013, tahun di mana untuk pertama kalinya sejak 1987, tidak ada angka yang diulang lagi. Semoga akan ada lebih banyak senyum tahun ini, asli maupun imitasi

Monday, January 07, 2013

Lantas, Aku?

Adalah Aku, sepotong kayu yang dibakar habis dan dibiarkan terbang serpihan abunya, melayang tanpa arah, menyesaki rongga dada.
Adalah Aku, kelopak bunga yang tak disinggahi kumbang madu, terpaksa layu untuk menggantikan bunga yang baru.
Adalah Aku, rintik hujan yang turun tergesa, seolah rindu mencium wangi bumi.
Adalah Aku, payung yang tak pernah dibuka, karna belaian gerimis terlihat lebih memesona.
Adalah Aku, sehelai daun yang jatuh tertiup angin, membusuk dan menyatu dengan tanah.
Adalah Aku, mimpi sekelebat, yang terlupakan sekeras apapun mencoba mengingat.
Adalah Aku, terik matahari, yang mencoba berkuat diri, ketika semua memaki.
Inilah Aku, hening yang berdenting pelan, ramai yang terdengar senyap, terang yang serupa malam.
Inilah Aku, yang tak pernah lupa, segalanya.

07.01.13  11.18 PM

Sunday, January 06, 2013

Melihat Peta

hari ini kematian membisikkan perihal-perihal indah. langit pagi yang perangainya tenang dan hangat telah ditanggalkan. beruluran jutaan jalan kecil, kaki-kakinya mekar jadi kembang api yang terbuat dari awan hitam.

aku tiba-tiba ingin seisi tubuhku tercuri. seseorang menangis memasangkan pakaian berwarna sederhana dan wewangian sambil membayangkan tuhan menyambutku dengan riang.
kau, entah di mana, membaca catatan yang aku tulis, aku kirim, dan terlambat tiba.

hari terakhirku jadi hari pertama bagimu. kesedihanku terbakar menjadi abu. kau tumbuh menjadi pohon yang pucuk-pucuknya hendak menyentuh kebiruan angkasa.
*
peta memberitahuku semua harta karun tersimpan di jantung rahasia hal-hal yang hancur. kau menggantung seperti sesuatu yang tak mampu aku namai - mimpi atau kenangan. di kepalaku, kau cahaya yang disaring kaca jendela berdebu. memasukiku sebagai jiwa yang kelelahan.
nanti malam, aku tak mau menutup mata jendela. akan aku biarkan ia menatap mata bulan, tempat barangkali kau menitip rahasia.
sementara yang menetap di luar aku, segala dendammu. memendam dendam, kata ibuku, seperti meminum segelas racun dengan harapan membunuh orang lain.
aku tidak ingin mendengar kabar pemakamanmu. biar tubuhku dan seluruh isinya yang tercuri. hiduplah kau.
----------

puisi oleh Aan Mansyur (@hurufkecil), Kompas, Minggu, 6 Januari 2013

Monday, December 17, 2012

Spasi Yang Mengisi

Ada terlalu banyak spasi yang menjelma menjadi halaman kosong dalam buku kita. Halaman demi halaman. Kian bertambah.
Kosong. Seolah lupa caranya, bagaimana buku itu pernah diisi oleh tinta bermacam warna, dengan bentuk sedemikian rasa.
Buku itu tidak berdebu, tidak pula terlupakan oleh jemari yang dulu selalu menari di atas kertasnya.
Hanya saja..
Inilah kita, yang kehilangan kata-kata.

-17.12.12-

Saturday, December 01, 2012

Pelangi Setengah Lingkaran


Aku melihatnya sejak awal. Muncul dari ketiadaan, perlahan membentuk setengah lingkaran. Mewarnai ujung timur langit dengan cantiknya. Sempurna.

Satu menit. Dua menit. Aku seperti terhipnotis. Berlari mundur untuk mencari bingkai yang tepat untuk menggambarnya dengan kamera yang kubawa. Berpacu dengan waktu.

Lalu aku terpaku di bawah hujan. Menatap lurus ke depan. Membiarkan setiap tetesnya membasuh kulit, bercengkerama dengan dingin. Berjalan maju, langkah demi langkah tanpa sekalipun mengalihkan pandangan. Sungguh tak berani sedetik pun mengalihkan pandangan. Ini benar-benar kesempatan langka.

Tapi...

Ah, ternyata umurnya sangat singkat. Saat bajuku nyaris kuyup, ia mulai memudar. Meninggalkan bias, sisa-sisa warna yang berjejak di langit. Pudar dan kian pudar. Sampai akhirnya hilang sama sekali. Musnah.

Tak 'kan lagi muncul sampai tiba waktunya, saat langit menginginkannya kembali. Untuk kemudian menari bersama.
Published with Blogger-droid v2.0.8