Tuesday, July 17, 2012
Thursday, June 21, 2012
Dua Makhluk Random
Nying : Jadi bagaimana kalau kita menjemput mimpi
malam ini, Dear?
Me : Sila duluan
mbakyu.
Perhentian saya masih jauh tampaknya. Lagi saya masih takut bermimpi buruk lagi :)
Nying : Bukankah pagi teramat bosan dengan
hadirnya wajah sendu yang lebih dari awal
di ufuk embun ini?
Aaah, andai saja aku mampu mengukir mimpi tentang
ketenangan malam ini, aku berjanji, malam yang akan bosan menjemputku terlalu
awal.
Me : Pagi sudah tak peduli lagi pada wajah sendu. Dia hanya
peduli dengan sinarnya yang menyilaukan langit. Membuat buta. Dan
sekonyong-konyong menciptakan rasa panas yang membuat tidak nyaman.
Nying : Bukaaan.. bukan itu. Hanya saja pagi
sedang sibuk merangkai pelangi untuk senja yang tepat.
Good night.
Me : Haaa.. sudahlah. Tak seharusnya saya membenci pagi dan
mentarinya yang tak pernah ingkar janji.
Malamlah yang seharusnya saya benci dengan segala
keheningannya yang merajam diri.
Selamat malam. Esok pagi kan seperti hari ini. Menyisakan duri,
menyisakan perih, menyisakan sunyi.
((Pada suatu malam yang sama randomnya dengan percakapan di atas. Via Whatsapp bersama seorang sahabat yang tingkat kenormalannya berada di bawah si empunya blog *emaap* ))
Kapan, Waktu?
Asa yang menghilang perlahan
Hati yang terlanjur lumpuh
Hancur. Melebur. Senyum yang mulai luntur.
Waktu, masih belum mau membantu.
Kapan kiranya?
Menara Matahari Lt.10
20 June 12
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengenal kata sadar
Adalah aku yang terlalu bising
Dengan keheningan sepi
Bukankah itu sama saja dengan membuat denting-denting waktu
Menjadi hingar bingar ditelingaku
Membunuhku dengan sejuta pertanyaan akan kapan?
Aku hanya lelah mempersalahkan keadaan
Dan seperangkat tentang perasaan ini
Waktu, biarkan aku menuntutmu
Sampai tak ada lagi kapan dan bagaimana
Tambahan oleh seorang
Sahabat
20 Juni 2012
Wednesday, June 13, 2012
Curhat #1
Dingin. Padahal jaket sudah kugunakan. Tapi masih saja.
Oh iya, di sini ramai sekali. Divisi sebelah, Store
Development dan R&D, sedang bebenah. Relayout katanya. Tapi kenapa aku
tetap merasa sepi ya. Hahaha.
Hmm.. sejujurnya aku bingung ingin menulis apa. Semua
kerjaan sudah habis (jangan tambah lagi ya :P) dan kebetulan mumpung hasrat
menulisku masih menggebu-gebu, jadilah sekarang jemariku menari.
Tadi, baru saja atasan langsungku, Pak Sarwo, meledekku.
Katanya aku update status terus, padahal hanya chat dengan beberapa teman di
YM. Aku tertawa saja.
Duh, jadi lupa kan
tadi mau menulis apa. Pikunku ini nggak pernah sembuh tampaknya :(
Dan lagu Float yang berjudul “Sementara” ini sudah kuputar entah untuk yang
keberapa kalinya hari ini. Liriknya begini:
“Percayalah hati lebih
dari ini. Pernah kita lalui. Jangan henti di sini…
Percayalah hati lebih
dari ini. Pernah kita lalui. Takkan lagi kita mesti jauh melangkah. Nikmatilah
lara...”
Lagunya bercerita tentang… ah, jangan tanya maknanya ya, aku
lagi malas mikir (alasan! hehe). Yang pasti suara dan musiknya sangat nyaman di
telinga. Coba denger deh :)
Ngomong-ngomong, ini sudah masuk minggu keempat aku bekerja
di Matahari Dept. Store. Kantornya sendiri ada di Menara Matahari di daerah
Lippo Village Karawaci Tangerang. Menara? Betul sekali. Mau tidak mau aku yang
nggak suka lift ini terpaksa menggunakan lift setiap hari!! (terdengar petir
menggelegar di kejauhan. Baiklah, berlebihan sekali). Tapi soal aku nggak suka
naik lift itu nggak berlebihan lho. Aku sih nggak keberatan kalau saja liftnya
secanggih yang seperti di Menara Mulia di Gatsu (misalnya). Tapi ini kan bukan. Jadi sensasi
setiap lift berhenti itu selalu bikin aku keliyengan. Hiks. Apa jangan-jangan
aku sendiri yang merasakannya?
Kalau transaksi dengan menggunakan ID Card ini, bisa dapat
diskon 10 persen lho. Hehe.
Sejak aku pindah, banyak orang bertanya apakah kantor baru
tempatku sekarang enak. Jadi bingung jawabnya, karena rasanya enak nggak enak.
Terkadang menyenangkan, tapi lebih sering aku tetap merasa sendirian. Semua
rasanya hambar. Entahlah, namanya juga adaptasi. Dan mungkin dari akunya juga
yang lebih sering memilih sendiri.
“Jelajahi waktu, ke
tempat berteduh hati kala biru. Dan lalu… sekitarku tak mungkin lagi kini.
Meringankan lara. Bawa aku pulang, Rindu! Segera!
Float. Judulnya “Pulang” dan sama enaknya. Sudah ah, aku mau
menikmati sepi lagi.
Tuesday, June 12, 2012
Buku dan Kebiasaan-Kebiasaan Gw
Books! Yeah, I really love books!
Kecintaan gw akan buku sebenernya sudah dimulai sejak kecil.
Masih ingat novel pertama yang gw baca judulnya “Karang Setan” karangan Enid Blyton, yang akhirnya jadi salah satu
penulis favorit gw. Buku demi buku mulai gw lahap. Juga berbagai macam komik
yang gw beli dari hasil menyisihkan uang jajan atau meminjam di tempat
penyewaan komik. Addicted. So much.
Sebagai pecinta buku, ada beberapa kebiasaan gw yang berguna
dan mungkin juga sudah banyak dilakukan oleh pecinta buku lainnya.
Tujuannya tentu saja supaya buku
lebih awet, dan cover-nya tidak mudah lecek. Selain itu buku juga jadi terlihat
lebih rapih. Tapiii..belakangan kebiasaan itu menghilang, nggak pernah sempat
lagi nyampulin novel atau komik yang baru dibeli. Sebagai gantinya supaya buku
tetap awet, bungkus plastik selalu gw sobek dengan rapih, supaya setelah
selesai baca, novel atau komik tersebut bisa dimasukkan lagi ke dalam bungkus
plastiknya.
2. Kasih
nama dan tanggal buku dibeli
Fungsinya? Sebagai identitas saja
sih sebenernya. Hehehe. Kalau tanggal, supaya kita tahu, kapan sih kita beli
buku itu. Sudah berapa tahun umur buku itu.
3. Tempel
kode barcode harga
Kalau kebiasaan ini gw dapat dari
kakak gw. Awalnya merasa aneh juga. Tapi kemudian gw berpikir, bertahun-tahun
kemudian saat harga buku sudah semakin mahal, kita akan menengok koleksi buku
lama kita dan saat melihat barcode harganya kita akan membatin betapa murahnya
harga buku pada masa itu.
4. Selalu
sediakan pembatas buku
Buat pecinta buku, melipat
halaman buku adalah haram hukumnya. Siapa yang rela lembaran bukunya rusak
karena sering dilipat. Ya kan ?
Dan beberapa buku sekarang bahkan sudah menyediakan pembatas buku yang
diselipkan di dalamnya.
5. Hati-hati
meminjamkan pada teman
Bukan bermaksud pelit atau apa.
Tapi lebih baik saat kita meminjamkan buku kita, lihat dulu siapa orangnya.
Jangan pernah meminjamkan buku kepada orang yang tidak menghargai buku itu,
menaruhnya sembarangan sehingga rentan terkena kotoran. Apalagi kepada orang
yang suka lupa mengembalikan barang yang sedang dipinjam.
Selamat membaca dan selalu cintai buku-bukumu! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

